Immanuel Kant


Immanuel Kant (UK /kænt/, US /kɑːnt/,Jerman: [ɪˈmaːnu̯eːl ˈkant, -nu̯ɛl]; 22 April 1724 – 12 Februari 1804) adalah seorang filsuf Jerman dan salah satu intelektual utama Abad Pencerahan. Karya Kant yang komprehensif dan sistematis dalam bidang epistemologi, metafisika, etika, dan estetika telah menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam filsafat Barat modern.

Dalam gagasannya tentang idealisme transendental, Kant berargumen bahwa ruang dan waktu hanyalah "bentuk-bentuk intuisi" yang membentuk semua pengalaman. Oleh karena itu, meski "hal-hal-dalam-dirinya" itu ada dan berkontribusi pada pengalaman, namun itu tetap berbeda dari objek pengalaman. Dari sini dapat disimpulkan bahwa objek pengalaman hanyalah apa yang tampak, dan sifat segala sesuatu pada dirinya sendiri (an sich) tidak dapat diketahui oleh manusia. Dalam upaya untuk menentang skeptisisme yang ia temukan dalam tulisan-tulisan karya filsuf David Hume, ia menulis Critique of Pure Reason (1781/1787), salah satu karyanya yang paling terkenal. Dalam karyanya itu, ia mengembangkan sebuah teori pengalaman untuk menjawab pertanyaan apakah pengetahuan apriori sintetik itu mungkin. Hal ini pada gilirannya akan memungkinkan untuk menentukan batas-batas penyelidikan metafisika. Kant menyamakan idenya dengan revolusi Copernicus untuk menentukan objek indera sebagai sesuatu yang sesuai dengan bentuk intuisi spasial dan temporal kita, sehingga kita memiliki apriori kognisi tentang objek tersebut.



Kehidupan Awal dan Pendidikan

Immanuel Kant lahir dalam keluarga yang sederhana, tetapi orang tuanya sangat memperhatikan pendidikan anak-anak mereka. Kant menerima pendidikan awal di rumah sebelum melanjutkan ke Collegium Fredericianum, sebuah sekolah Latin di Königsberg. Kemudian, ia masuk ke Universitas Königsberg untuk belajar filsafat, matematika, dan ilmu alam. Di universitas ini, ia terpengaruh oleh rasionalisme Leibniz dan Wolff serta empirisme Locke dan Newton.

Karier Akademis dan Karya

Setelah menyelesaikan studinya, Kant bekerja sebagai tutor pribadi sebelum menjadi dosen di Universitas Königsberg. Ia akhirnya diangkat sebagai profesor luar biasa pada tahun 1770. Selama karier akademisnya, Kant menulis sejumlah karya penting yang mencakup berbagai bidang, termasuk metafisika, epistemologi, etika, dan estetika.

Kritik Terhadap Rasio Murni

Karya utama Kant, "Kritik Terhadap Rasio Murni" (Kritik der reinen Vernunft), diterbitkan pada tahun 1781. Dalam karya ini, Kant menyelidiki batas-batas dan kemampuan rasio manusia. Ia berpendapat bahwa pengetahuan manusia dibatasi oleh pengalaman indrawi, tetapi juga ditentukan oleh struktur a priori dari pikiran manusia. Kant mengembangkan konsep-konsep seperti "fenomena" (dunia sebagaimana yang kita alami) dan "noumena" (dunia sebagaimana adanya). Karya ini mengubah arah filsafat Eropa dan memulai era baru dalam pemikiran filosofis.

Kritik Terhadap Rasio Praktis

Kant melanjutkan proyek filsafatnya dengan "Kritik Terhadap Rasio Praktis" (Kritik der praktischen Vernunft) yang diterbitkan pada tahun 1788. Dalam karya ini, Kant mengembangkan etika deontologis yang didasarkan pada konsep "kehendak baik" dan "imperatif kategoris." Menurut Kant, tindakan moral harus didasarkan pada prinsip-prinsip universal yang dapat diterapkan pada semua orang tanpa pengecualian. Imperatif kategoris Kant berbunyi: "Bertindaklah hanya menurut prinsip yang dapat kamu kehendaki menjadi hukum universal."

Kritik Terhadap Daya Hakim

Pada tahun 1790, Kant menyelesaikan trilogi kritiknya dengan "Kritik Terhadap Daya Hakim" (Kritik der Urteilskraft). Dalam karya ini, Kant membahas estetika dan teleologi. Ia berpendapat bahwa pengalaman estetis dan penilaian estetis bersifat subjektif tetapi memiliki validitas universal. Kant juga membahas konsep tujuan dalam alam dan bagaimana manusia memahami dunia alamiah melalui prinsip-prinsip teleologis.

Pengaruh dan Warisan

Pemikiran Kant memiliki pengaruh yang sangat besar dalam berbagai bidang filsafat dan ilmu pengetahuan. Filsafatnya menjadi dasar bagi perkembangan idealisme Jerman, yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Fichte, Schelling, dan Hegel. Konsep-konsep Kant juga mempengaruhi perkembangan psikologi, sosiologi, dan teori kritis.

Warisan Kant dalam etika juga sangat signifikan. Etika deontologisnya terus menjadi subjek studi dan perdebatan dalam filsafat moral kontemporer. Selain itu, pemikiran Kant tentang hak asasi manusia, kebebasan, dan otonomi individu telah memengaruhi banyak teori politik modern.

Akhir Hidup dan Pengaruh

Immanuel Kant meninggal pada 12 Februari 1804 di Königsberg. Meskipun ia tidak pernah meninggalkan kampung halamannya, pemikirannya menjangkau jauh melampaui batas-batas geografis dan temporal. Hingga saat ini, karya-karyanya terus dipelajari, dianalisis, dan dihargai oleh para filsuf, akademisi, dan pemikir di seluruh dunia.

Dalam kesimpulannya, Immanuel Kant adalah seorang raksasa dalam sejarah filsafat yang karyanya telah membentuk pemikiran Barat modern. Filsafat kritisnya membuka jalan bagi pemahaman yang lebih dalam tentang batas-batas pengetahuan manusia, etika, dan estetika. Warisan intelektualnya tetap hidup dan terus menginspirasi generasi demi generasi pencari kebenaran.


GALERI





Komentar

Postingan Populer