KOKAIN
Kokaina merupakan alkaloid yang didapatkan dari tumbuhan koka Erythroxylon coca, yang berasal dari Amerika Selatan. Daunnya biasa dikunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan “efek stimulan”.
Saat ini kokaina masih digunakan sebagai anestetik lokal, khususnya untuk pembedahan mata, hidung dan tenggorokan, karena efek vasokonstriksif-nya juga membantu. Kokaina diklasifikasikan sebagai suatu narkotika, bersama dengan morfina dan heroina karena efek adiktif.
Sejarah Kokain
Penggunaan daun koka oleh penduduk asli Andes telah berlangsung selama lebih dari 1.000 tahun. Mereka mengunyah daun ini untuk mendapatkan efek stimulan yang membantu mereka mengatasi kelelahan dan rasa lapar saat bekerja di ketinggian. Pada akhir abad ke-19, ilmuwan Eropa berhasil mengekstraksi zat aktif dari daun koka dan menghasilkan kokain murni. Pada awalnya, kokain digunakan sebagai anestesi lokal dalam operasi mata, hidung, dan tenggorokan.
Popularitas kokain meningkat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, dan bahkan digunakan dalam minuman beralkohol dan obat-obatan komersial seperti Vin Mariani dan Coca-Cola. Namun, efek sampingnya yang berbahaya segera terungkap, dan pada tahun 1914, Amerika Serikat mengeluarkan Undang-Undang Harrison, yang mengatur distribusi dan penggunaan kokain.
Komposisi dan Bentuk Penggunaan
Kokain hadir dalam dua bentuk utama: kokain hidroklorida (bubuk kokain) dan kokain basa bebas (freebase atau crack). Kokain hidroklorida adalah bentuk kokain yang paling umum digunakan, biasanya dihirup melalui hidung atau dilarutkan dan disuntikkan. Crack adalah bentuk kokain yang lebih murni dan lebih kuat, yang biasanya dihisap dalam bentuk asap.
Efek Penggunaan Kokain
Kokain adalah stimulan sistem saraf pusat yang bekerja dengan cara meningkatkan kadar dopamin di otak. Dopamin adalah neurotransmitter yang terkait dengan rasa senang dan reward. Penggunaan kokain dapat memberikan euforia sementara, peningkatan energi, dan kepercayaan diri. Namun, efek ini diikuti oleh penurunan tajam yang dapat menyebabkan rasa cemas, depresi, dan kelelahan.
Dampak Kesehatan
Penggunaan kokain memiliki banyak dampak negatif pada kesehatan fisik dan mental, termasuk:
Kardiovaskular: Kokain dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung, tekanan darah tinggi, dan risiko serangan jantung.
Neurologis: Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan otak permanen, kejang, dan stroke.
Psikologis: Kokain dapat menyebabkan gangguan kecemasan, paranoia, dan psikosis.
Pernafasan: Menghirup kokain dapat merusak saluran pernapasan, sementara menyuntikkan kokain dapat menyebabkan infeksi serius.
Dampak Sosial
Selain dampak kesehatan, kokain juga memiliki dampak sosial yang signifikan. Pengguna kokain seringkali mengalami masalah dalam hubungan sosial, pekerjaan, dan keuangan. Kecanduan kokain dapat menyebabkan perilaku kriminal dan keterlibatan dalam aktivitas ilegal untuk mendapatkan zat ini. Selain itu, perdagangan kokain yang ilegal telah menyebabkan peningkatan kekerasan dan ketidakstabilan di banyak negara penghasil kokain, terutama di Amerika Latin.
Upaya Pengendalian
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengendalikan penyalahgunaan kokain. Pemerintah di seluruh dunia telah menerapkan kebijakan ketat terhadap produksi, distribusi, dan penggunaan kokain. Program rehabilitasi dan terapi juga tersedia untuk membantu pengguna mengatasi kecanduan mereka. Pendidikan dan kampanye kesadaran masyarakat tentang bahaya kokain juga penting untuk mencegah penyalahgunaan.
Kesimpulan
Kokain adalah zat yang memiliki sejarah panjang dan kompleks, dari penggunaan tradisional di Andes hingga menjadi ancaman kesehatan global. Meskipun efeknya yang sementara dapat terasa menyenangkan, dampak jangka panjangnya jauh lebih merugikan. Penting bagi masyarakat untuk menyadari bahaya kokain dan mendukung upaya pengendalian serta rehabilitasi untuk mengatasi masalah ini.
GALERI
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

Komentar
Posting Komentar