Martin Heidegger
Martin Heidegger (26 September 1889 – 26 Mei 1976) adalah seorang filsuf asal Jerman. Ia belajar di Universitas Freiburg di bawah Edmund Husserl, penggagas fenomenologi, dan kemudian menjadi profesor di sana 1928. Ia memengaruhi banyak filsuf lainnya, dan murid-muridnya termasuk Hans-Georg Gadamer, Hans Jonas, Emmanuel Levinas, Hannah Arendt, Leo Strauss, Xavier Zubiri dan Karl Löwith. Maurice Merleau-Ponty, Jean-Paul Sartre, Jacques Derrida, Michel Foucault, Jean-Luc Nancy, dan Philippe Lacoue-Labarthe juga mempelajari tulisan-tulisannya dengan mendalam. Selain hubungannya dengan fenomenologi, Heidegger dianggap mempunyai pengaruh yang besar atau tidak dapat diabaikan terhadap eksistensialisme, dekonstruksi, hermeneutika dan pasca-modernisme. Ia berusaha mengalihkan filsafat Barat dari pertanyaan-pertanyaan metafisis dan epistemologis ke arah pertanyaan-pertanyaan ontologis, artinya, pertanyaan-pertanyaan menyangkut makna keberadaan, atau apa artinya bagi manusia untuk berada. Heidegger juga merupakan anggota akademik yang penting dari Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei.
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Heidegger lahir dalam keluarga Katolik yang sederhana dan awalnya bercita-cita menjadi pendeta. Ia masuk seminari di Konstanz dan kemudian melanjutkan studinya ke University of Freiburg. Di Freiburg, Heidegger mulai tertarik pada filsafat setelah membaca karya-karya Edmund Husserl, pendiri fenomenologi. Heidegger akhirnya memutuskan untuk meninggalkan seminari dan mengejar karir dalam bidang filsafat.
Karya dan Kontribusi
Being and Time
Karya utama Heidegger, "Sein und Zeit" (Being and Time), diterbitkan pada tahun 1927. Buku ini dianggap sebagai salah satu karya filsafat terpenting di abad ke-20. Dalam "Being and Time," Heidegger mengkaji konsep "Being" (Ada) dan mencoba menjawab pertanyaan tentang apa arti dari keberadaan. Heidegger memperkenalkan istilah "Dasein" untuk merujuk pada eksistensi manusia yang unik, yang sadar akan dirinya sendiri dan keberadaannya di dunia.
Dalam buku ini, Heidegger juga mengembangkan konsep "Temporality" (Kewaktuan) sebagai cara untuk memahami keberadaan manusia. Ia berargumen bahwa manusia hidup dalam keterkaitan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan, dan bahwa pemahaman tentang keberadaan manusia hanya dapat dicapai melalui analisis temporalitas ini.
Kritik terhadap Metafisika
Heidegger dikenal karena kritiknya terhadap tradisi metafisika Barat, yang ia anggap telah melupakan pertanyaan dasar tentang keberadaan. Dalam esai "The Question Concerning Technology" (1954), Heidegger mengkritik pandangan teknologi modern yang melihat alam semesta sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Ia berpendapat bahwa pandangan ini telah mengasingkan manusia dari hubungan yang lebih mendalam dengan alam dan keberadaan.
Kontroversi dan Kritik
Heidegger adalah anggota Partai Nazi selama beberapa tahun pada awal 1930-an, dan keterlibatannya ini menimbulkan kontroversi besar dalam dunia akademis. Meskipun Heidegger kemudian menjauhkan dirinya dari partai tersebut, keterlibatannya telah mempengaruhi pandangan banyak orang terhadap karyanya.
Selain itu, gaya penulisan Heidegger yang rumit dan penuh dengan istilah-istilah baru membuat banyak karyanya sulit dipahami oleh pembaca awam. Kritik juga datang dari kalangan filsuf lain yang menganggap pemikirannya terlalu spekulatif dan abstrak.
Pengaruh dan Warisan
Pemikiran Heidegger telah mempengaruhi berbagai bidang ilmu pengetahuan dan seni. Dalam filsafat, ide-idenya telah memberikan kontribusi besar pada perkembangan eksistensialisme, hermeneutika, dan poststrukturalisme. Tokoh-tokoh seperti Jean-Paul Sartre, Jacques Derrida, dan Hans-Georg Gadamer adalah beberapa filsuf yang terinspirasi oleh karya Heidegger.
Di luar filsafat, pengaruh Heidegger juga terlihat dalam sastra, teologi, dan psikologi eksistensial. Misalnya, konsep "Being" dan "Dasein" telah menjadi tema sentral dalam karya-karya sastra modern dan kajian teologi kontemporer.
Kesimpulan
Martin Heidegger adalah seorang filsuf yang brilian dan kontroversial yang berhasil mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang keberadaan dan teknologi. Melalui karyanya yang monumental seperti "Being and Time," Heidegger telah memberikan sumbangan besar bagi pemahaman kita tentang eksistensi manusia dan hubungan kita dengan dunia. Meskipun kehidupannya penuh dengan kontroversi, warisan intelektual Heidegger tetap relevan dan terus menginspirasi generasi baru pemikir dan peneliti.
GALERI
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

Komentar
Posting Komentar