Nakae Chōmin: Bapak Demokrasi Jepang Modern
Pendahuluan
Nakae Chōmin (1847–1901) adalah intelektual, jurnalis, politisi, dan penerjemah Jepang yang dijuluki “Rousseau-nya Jepang”. Ia memainkan peran besar dalam memperkenalkan gagasan kedaulatan rakyat, demokrasi, dan kebebasan politik pada era Meiji, saat Jepang baru mulai bertransformasi menjadi negara modern.
Melalui karya-karyanya yang kritis dan bernas—terutama terjemahan Du contrat social milik Jean-Jacques Rousseau—Nakae menjadi tokoh utama dalam gerakan Freedom and People's Rights Movement (Jiyū Minken Undō) yang mendorong lahirnya konstitusi modern Jepang.
Kehidupan Awal
Latar Belakang dan Misi ke Prancis
Nakae lahir di Tosa Domain (kini Prefektur Kōchi), sebuah wilayah yang pada akhir zaman feodal menjadi pusat pemikiran progresif. Pada 1871, ia dikirim oleh pemerintah Meiji muda ke Prancis untuk mempelajari ilmu politik, filsafat, dan bahasa. Empat tahun tinggal di Paris menjadi pengalaman pembentuk identitas intelektualnya.
Di sana ia:
-
mempelajari pemikiran Pencerahan Eropa
-
membaca karya Rousseau, Voltaire, Montesquieu
-
belajar tentang liberalisme, kebebasan sipil, dan demokrasi
Pengalamannya ini sangat kontras dengan kondisi Jepang yang masih kental dengan tradisi bangsa samurai dan sistem politik otoritarian.
Kembali ke Jepang: Menjadi Intelektual Revolusioner
Awal Karier Politik
Sekembalinya ke Jepang pada 1874, Nakae sempat bekerja sebagai pejabat pemerintah dan pengajar. Namun, ia segera berselisih dengan pemerintah Meiji yang dianggapnya terlalu otoriter, terlalu sentralistis, dan mengabaikan hak-hak rakyat.
Nakae kemudian:
-
mengundurkan diri dari jabatan pemerintahan
-
beralih menjadi penulis, kritikus, dan jurnalis
-
mendirikan sekolah untuk mempromosikan pemikiran Barat dan demokrasi
Ia tak segan menentang kebijakan pemerintah, terutama yang membungkam kebebasan berbicara.
Kontribusi Utama dalam Dunia Pemikiran
1. “Rousseau-nya Jepang”
Julukan ini berasal dari peran besar Nakae dalam memperkenalkan pemikiran Jean-Jacques Rousseau ke Jepang. Terjemahan karyanya terhadap “Du contrat social” (Kontrak Sosial) menjadi sangat terkenal.
Versi terjemahannya bukan hanya sekadar terjemahan, tetapi juga:
-
diberi komentar panjang
-
dijelaskan dengan konteks Jepang
-
ditulis ulang dengan bahasa yang mudah dipahami rakyat biasa
Lewat karya ini, gagasan:
-
kedaulatan rakyat
-
hak alamiah manusia
-
pemerintahan berdasarkan persetujuan rakyat
menjadi dikenal luas untuk pertama kalinya dalam sejarah Jepang.
2. Gerakan Kebebasan dan Hak Rakyat
Nakae adalah salah satu tokoh utama dalam gerakan Jiyū Minken Undō, sebuah gerakan politik rakyat pada akhir abad ke-19 yang menuntut:
-
pembentukan parlemen nasional
-
kebebasan berpendapat
-
pembentukan konstitusi yang melindungi hak rakyat
-
pengurangan kekuasaan absolut pemerintah
Gerakan ini kemudian menjadi fondasi dari lahirnya:
-
Konstitusi Meiji (1889)
-
Parlemen Jepang (1890)
Walaupun Nakae tidak sepenuhnya puas dengan bentuk konstitusi Meiji, ia tetap menjadi figur penting yang memberi tekanan intelektual dan moral kepada pemerintah.
3. Karya Sastra dan Filsafat Politik
A Discourse by Three Drunkards on Government (Sansuijin Keirin Mondō) – 1887
Karya paling terkenal dan paling kreatif dari Nakae.
Dalam buku ini ia menggambarkan perdebatan antara:
-
The Gentleman: penganut liberalisme dan non-kekerasan
-
The Champion: nasionalis yang agresif dan militeristik
-
The Master (guru pemabuk): tokoh moderat yang mencoba menengahi
Lewat dialog satir ini, Nakae mengkritik:
-
imperialisme Jepang
-
militerisme yang sedang tumbuh
-
obsesi elit terhadap ekspansi kekuasaan
-
otoritarianisme negara
Buku ini dianggap sebagai salah satu kritik paling tajam terhadap arah politik Jepang menjelang era kolonial.
4. Humanisme dan Etika Sekuler
Dalam tulisannya, Nakae tidak hanya berbicara tentang politik. Ia juga menulis tentang:
-
pentingnya kebebasan berfikir
-
etika berbasis rasionalitas, bukan dogma
-
pendidikan sebagai dasar masyarakat yang baik
Ia percaya bahwa demokrasi hanya dapat berjalan jika rakyat dididik dengan benar dan diberi ruang berpikir bebas.
Konflik dengan Pemerintah dan Pengasingan
Sensor dan Penjara
Tulisan-tulisan Nakae yang kritis membuatnya berulang kali berselisih dengan pemerintah. Banyak tulisannya disensor, dan ia beberapa kali:
-
ditangkap
-
dipenjara
-
dilarang mengajar
Pemerintah Meiji melihat pemikiran liberal sebagai ancaman terhadap stabilitas nasional dan kekuasaan Kaisar.
Pengasingan di Osaka
Setelah dituduh melanggar Undang-Undang Pers, Nakae dipaksa meninggalkan Tokyo dan menetap di Osaka. Di sana ia membuka sekolah dan terus menyebarkan gagasan demokrasi meski berada di bawah pengawasan pemerintah.
Akhir Hidup
Sakit dan Pensiun
Pada akhir 1890-an, kesehatan Nakae memburuk karena tuberkulosis. Meski demikian, ia tetap menulis dan mengajar sampai akhir hidupnya.
Ia meninggal pada tahun 1901 pada usia 54 tahun, meninggalkan warisan intelektual yang sangat besar.
Warisan Pemikiran Nakae Chōmin
1. Fondasi Demokrasi Jepang
Meski Jepang baru benar-benar mengembangkan demokrasi setelah Perang Dunia II, gagasan awal yang memungkinkan hal itu tumbuh sebagian besar berasal dari:
-
gerakan rakyat
-
pemikiran liberal
-
karya-karya Nakae
2. Pengaruh terhadap Sastra dan Filsafat
Gaya satir Nakae menginspirasi banyak penulis Jepang modern.
Dia juga dianggap sebagai peletak dasar:
-
filsafat politik Jepang modern
-
teori demokrasi Jepang
-
humanisme sekuler ala Jepang
3. Perintis Intelektual Global
Nakae adalah figur penting dalam sejarah penyebaran pemikiran Barat ke Asia Timur. Tanpa dirinya, perkembangan wacana demokrasi di Jepang kemungkinan akan jauh lebih lambat.
Kesimpulan
Nakae Chōmin adalah tokoh yang memainkan peranan vital dalam memperkenalkan ide-ide demokrasi dan hak rakyat ke Jepang pada masa transisi menuju modernitas. Melalui terjemahan, karya satir, tulisan kritis, dan pendidikan, ia membantu membentuk fondasi intelektual bagi perkembangan politik Jepang di abad berikutnya.
Ia bukan sekadar penerjemah Rousseau—ia adalah pemikir orisinal yang mampu menafsirkan nilai-nilai universal seperti kebebasan dan kesetaraan ke dalam konteks Jepang.
Warisan Nakae tidak hanya hidup dalam dunia akademik, tetapi juga dalam masyarakat Jepang yang terus berkembang menuju demokrasi yang lebih matang.
.jpeg)
.jpg)

Komentar
Posting Komentar