Nishida Kitarō


Nishida Kitarō: Filsuf Besar Jepang dan Pendiri Kyoto School

Pendahuluan

Nishida Kitarō (西田幾多郎; 1870–1945) adalah salah satu tokoh paling penting dalam filsafat Jepang abad ke-20. Ia dikenal sebagai pendiri Kyoto School, sebuah aliran pemikiran yang memadukan filsafat Barat modern dengan tradisi spiritual dan intelektual Timur, terutama Buddhisme Zen. Melalui karya-karya seperti An Inquiry into the Good dan konsep-konsep fundamental seperti pure experience dan basho, Nishida berhasil menciptakan sistem filsafat yang unik, kreatif, dan sangat berpengaruh di dalam maupun luar Jepang.


Biografi Singkat

Nishida Kitarō lahir pada 19 Juni 1870 di desa Unoke, Prefektur Ishikawa, Jepang. Ia tumbuh dalam keluarga pemilik tanah yang cukup sederhana namun menghargai pendidikan. Sejak muda Nishida menunjukkan ketertarikan pada matematika, sastra, dan kemudian filsafat.

Beberapa poin penting perjalanan hidupnya:

  • 1890: Masuk Universitas Kekaisaran Tokyo, awalnya belajar ekonomi, kemudian beralih ke filsafat.

  • 1900–1910: Mulai menekuni meditasi Zen secara konsisten, yang sangat mempengaruhi corak pemikirannya.

  • 1911: Menerbitkan karya pertamanya yang sangat berpengaruh, Zen no Kenkyū (An Inquiry into the Good).

  • 1913–1928: Menjadi profesor di Universitas Kyoto, menciptakan fondasi bagi Kyoto School dan mempengaruhi banyak murid, seperti Tanabe Hajime dan Nishitani Keiji.

  • 1945: Wafat pada usia 75 tahun, meninggalkan puluhan esai filosofis yang kelak menjadi inti filsafat modern Jepang.


Gagasan Utama Nishida Kitarō

1. Pengalaman Murni (Pure Experience)

Konsep pertama yang membuat Nishida terkenal adalah keiken no junsui atau pure experience.
Menurut Nishida:

Pengalaman murni adalah keadaan sebelum pemisahan antara subjek dan objek, sebelum pikiran “menilai” sesuatu.

Dalam pengalaman ini kita:

  • merasakan sesuatu secara langsung

  • belum memisahkan diri dari dunia

  • belum menyusun konsep-konsep rasional

Contoh sederhana adalah ketika:

  • mendengar musik dan larut tanpa berpikir,

  • menyaksikan matahari terbenam sebelum memikirkan “indah” atau “tidak”.

Konsep ini dipengaruhi Zen dan fenomenologi Barat, serta menjadi pondasi filsafat Nishida di masa berikutnya.


2. Logika Tempat (Logic of Basho)

Karya-karya terpenting Nishida pada periode selanjutnya berfokus pada basho (場所), yang berarti “tempat” atau “lapangan”.
Tetapi bagi Nishida, basho bukan tempat fisik — ia adalah kondisi eksistensial di mana segala sesuatu dapat muncul dan dikenal.

Tiga tingkatan basho menurut Nishida:

  1. Basho penginderaan (dunia pengalaman langsung)

  2. Basho kesadaran (dunia pikiran, konsep, penilaian)

  3. Basho absolut (the basho of absolute nothingness)

Yang paling penting adalah “basho of absolute nothingness” (無の場所, mu no basho).
Di sini, keberadaan dan ketiadaan, aku dan dunia, semuanya saling menembus dan koeksis dalam hubungan saling menegasi namun tidak saling menghancurkan. Konsep ini dipengaruhi:

  • Buddhisme Mahayana (khususnya konsep śūnyatā)

  • metafisika Barat (Plato, Kant, Hegel)


3. Kesadaran Diri Absolut

Nishida berpendapat bahwa kesadaran manusia bukan hanya subjek yang mengetahui objek, tetapi lapangan kesadaran tempat segala fenomena muncul.

Ia menolak pemisahan mutlak antara aku dan dunia.
Baginya, kesadaran adalah proses penciptaan-diri melalui relasi dengan dunia.


4. Tindakan Intuitif (Act-Intuition)

Dalam karya-karya akhir hidupnya, Nishida menekankan bahwa:

  • manusia tidak hanya berpikir, tetapi menciptakan dunia melalui tindakan.

  • tindakan yang paling otentik adalah tindakan yang muncul dari kedalaman diri, bukan dari kehendak ego.

Konsep ini mempengaruhi estetika dan etika dalam Kyoto School.


Pengaruh Zen dalam Filsafat Nishida

Nishida bukan biksu Zen, tetapi sangat terinspirasi oleh praktik meditasi.
Ciri-ciri Zen dalam pemikirannya antara lain:

  • penekanan pada pengalaman langsung

  • penolakan dualisme subjek–objek

  • konsep mu (ketiadaan)

  • pandangan bahwa realitas selalu dinamis dan tak lengkap

Zen memberikan landasan eksistensial, sedangkan filsafat Barat memberikan struktur sistematis — dan kombinasi ini menjadikan pemikirannya sangat orisinil.


Nishida dan Kyoto School

Tanpa Nishida, Kyoto School tidak akan ada. Ia adalah figur sentral yang membuka ruang bagi dialog intelektual antara Timur dan Barat. Para muridnya mengembangkan gagasan Nishida ke berbagai arah:

  • Tanabe Hajime: Dialektika dan kritik rasionalitas

  • Nishitani Keiji: Eksistensialisme Buddhis dan krisis nihilisme

  • Hisamatsu Shinichi: Estetika Zen

Kyoto School menjadi salah satu aliran filsafat paling terkenal dari Jepang dan mendapat pengakuan internasional.


Karya-karya Penting Nishida Kitarō

  1. An Inquiry into the Good (1911) – Fondasi pemikirannya tentang pengalaman murni.

  2. Intuition and Reflection in Self-Consciousness (1917)

  3. From the Active Intuition to the Self-Aware System (1923)

  4. The Logic of Place and the Religious Worldview (1945) – karya akhir yang merangkum seluruh sistem filsafatnya.


Pengaruh dan Warisan

Nishida dianggap:

  • Filsuf Jepang paling penting abad ke-20

  • Tokoh penghubung pemikiran Timur dan Barat

  • Inspirasi bagi diskusi tentang fenomenologi, eksistensialisme, dan metafisika modern

Idenya digunakan dalam:

  • teologi kontemporer

  • filsafat agama

  • estetika

  • kajian budaya

  • dialog antarperadaban

Warisan intelektualnya tetap hidup di universitas-universitas Jepang dan dunia hingga hari ini.


Penutup

Nishida Kitarō adalah pemikir yang berhasil menggabungkan kedalaman spiritual tradisi Timur dengan ketelitian analitis filsafat Barat. Pemikirannya bukan hanya milik Jepang, tetapi bagian dari warisan filsafat dunia. Dengan konsep seperti pure experience, logic of basho, dan “absolute nothingness,” Nishida membuka jalan bagi pemahaman baru tentang kesadaran, realitas, dan hubungan manusia dengan dunia.

Bagi siapa pun yang tertarik pada filsafat, terutama pertemuan antara Timur dan Barat, karya-karya Nishida Kitarō adalah sumber yang tak ternilai.

Komentar

Postingan Populer