Olympique de Marseille



🏟️ Olympique de Marseille: Kebanggaan Kota Pelabuhan dan Simbol Semangat Selatan Prancis

1. Awal Berdirinya: Akar Sejarah yang Kuat

Olympique de Marseille (sering disingkat OM) didirikan pada tahun 1899 oleh René Dufaure de Montmirail, seorang bangsawan Prancis yang terinspirasi oleh semangat olahraga Inggris yang sedang berkembang pada masa itu. Klub ini bermarkas di kota Marseille, kota pelabuhan terbesar di Prancis yang terkenal dengan keberagaman budaya dan semangat juangnya.

Nama “Olympique” diambil dari tradisi olahraga Yunani kuno, sementara “de Marseille” menunjukkan kebanggaan lokal yang mendalam. Sejak awal berdirinya, OM bukan sekadar klub sepak bola — ia menjadi lambang identitas bagi masyarakat Marseille yang keras, pekerja keras, dan penuh gairah.


2. Stadion Legendaris: Stade Vélodrome

Rumah dari Olympique de Marseille adalah Stade Vélodrome, yang dibuka pada tahun 1937. Stadion ini merupakan salah satu arena sepak bola paling ikonik di Eropa, dengan kapasitas lebih dari 67.000 penonton.

Suasana di dalam Vélodrome terkenal luar biasa panas — terutama dari dua kelompok ultras legendaris: Commando Ultra 84 dan South Winners 87. Dukungan fanatik mereka menjadikan setiap laga kandang seperti neraka bagi tim tamu. Bagi warga Marseille, stadion ini bukan hanya tempat menonton sepak bola, tapi juga “kuil” kebanggaan kota.


3. Masa Keemasan: Era 1980-an hingga 1990-an

OM mulai benar-benar bersinar di bawah kepemimpinan Bernard Tapie, seorang pengusaha ambisius yang mengambil alih klub pada 1986. Dengan dukungannya, Marseille membangun tim yang tangguh dan modern, serta mendatangkan pemain bintang seperti:

Puncak kejayaan datang pada 1993, ketika OM menjuarai Liga Champions UEFA (saat itu disebut European Cup). Mereka mengalahkan AC Milan 1–0 di final berkat gol legendaris Basile Boli. Dengan kemenangan itu, Olympique de Marseille menjadi satu-satunya klub Prancis yang pernah memenangkan Liga Champions — rekor yang masih bertahan hingga kini.


4. Skandal dan Kejatuhan

Namun, tidak lama setelah kemenangan tersebut, klub dilanda skandal pengaturan skor (Affaire VA-OM). Diketahui bahwa Marseille menyuap beberapa pemain dari tim Valenciennes agar bermain “lunak” dalam pertandingan liga, supaya skuad utama OM tetap bugar untuk final Eropa.

Akibatnya, pada tahun 1994, OM dicabut gelar juara Ligue 1, diturunkan ke divisi dua, dan reputasinya hancur lebur. Bernard Tapie pun dijatuhi hukuman penjara. Meski begitu, kecintaan fans terhadap klub tak pernah padam — bahkan justru semakin menguat.


5. Kebangkitan dan Era Modern

Setelah bertahun-tahun berjuang di Ligue 2 dan menghadapi krisis finansial, Marseille kembali ke kasta tertinggi Ligue 1 dan perlahan bangkit. Di awal 2000-an, OM kembali bersaing di papan atas dan menarik pemain besar seperti Didier Drogba, Franck Ribéry, dan Samir Nasri.

Puncak kebangkitan modern terjadi di bawah pelatih Didier Deschamps pada musim 2009–2010, ketika Marseille kembali menjuarai Ligue 1 setelah penantian panjang selama 18 tahun. Trofi itu menjadi simbol kebangkitan sejati klub dari masa kelam.


6. Gaya Bermain dan Filosofi

Olympique de Marseille dikenal dengan permainan cepat, agresif, dan penuh semangat — mencerminkan karakter kota pelabuhan yang keras dan bergairah. Gaya permainan ini sering disebut sebagai “football du peuple” (sepak bola rakyat), karena lebih menekankan semangat dan kerja keras daripada kemewahan.

Klub juga dikenal memiliki akademi muda yang produktif, menghasilkan banyak talenta Prancis seperti:


7. Rivalitas Abadi: Le Classique

Rival terbesar OM adalah Paris Saint-Germain (PSG). Pertandingan antara keduanya dikenal sebagai “Le Classique”, yang merupakan versi Prancis dari “El Clásico” di Spanyol.
Persaingan ini bukan sekadar soal sepak bola, tapi juga mencerminkan perbedaan budaya dan sosial antara Paris yang elit dan Marseille yang rakyat. Saat kedua klub bertemu, seluruh Prancis berhenti sejenak untuk menyaksikan “perang” dua kota terbesar di negeri itu.


8. Dukungan Fans: Lebih dari Sekadar Penonton

Pendukung OM dikenal sebagai salah satu yang paling fanatik dan emosional di dunia sepak bola.
Bagi warga Marseille, klub ini adalah bagian dari identitas dan kebanggaan hidup. Saat tim menang, seluruh kota berpesta. Saat tim kalah, air mata dan teriakan memenuhi jalanan. Slogan klub, “Droit au but” (langsung ke gawang), mencerminkan jiwa mereka yang selalu maju tanpa takut.


9. Masa Kini dan Harapan Masa Depan

Dalam beberapa tahun terakhir, OM terus berusaha kembali ke puncak sepak bola Eropa. Di bawah manajemen modern dan pelatih berbakat seperti Igor Tudor dan Marcelino, klub berusaha menyeimbangkan keuangan, membangun skuad kompetitif, dan kembali berkompetisi di Liga Champions.

Meskipun sering kalah dalam kekuatan finansial dari PSG, semangat dan kebanggaan Marseille tetap menjadi senjata utama mereka. Klub ini bukan hanya tentang trofi, tetapi tentang kisah perjuangan, kebangkitan, dan cinta abadi terhadap warna biru-putih.


⚜️ Kesimpulan

Olympique de Marseille bukan hanya sebuah klub sepak bola — ia adalah simbol kota, semangat rakyat, dan kisah abadi tentang jatuh-bangun yang penuh makna. Dari kejayaan Eropa hingga skandal yang memalukan, dari kehancuran hingga kebangkitan, OM selalu menunjukkan satu hal:
bahwa kejayaan sejati lahir dari ketulusan, semangat, dan kecintaan tanpa syarat.

Komentar

Postingan Populer