Sunderland AFC

Sunderland AFC: Kisah Kebanggaan, Kejatuhan, dan Kebangkitan dari Timur Laut Inggris

Pendahuluan

Di wilayah timur laut Inggris, di tepi Sungai Wear, berdiri sebuah klub dengan sejarah panjang, basis penggemar luar biasa, dan semangat yang tak pernah padam — Sunderland AFC. Dikenal dengan julukan “The Black Cats”, klub ini memiliki warisan yang kuat dalam sepak bola Inggris, baik di masa kejayaan maupun di masa-masa sulit.

Berdiri sejak 1879, Sunderland telah menorehkan sejarah yang penuh warna — dari juara liga Inggris enam kali, hingga terperosok ke kasta ketiga sepak bola. Namun satu hal yang tak pernah berubah adalah loyalitas pendukungnya, yang tetap setia memenuhi stadion Stadium of Light, bahkan di saat-saat tergelap.


🏛️ Awal Berdiri dan Akar Sejarah Klub

Sunderland didirikan pada tahun 1879 oleh seorang guru sekolah bernama James Allan, dengan nama awal Sunderland and District Teachers Association FC. Tujuan awalnya sederhana: memberikan kesempatan bagi para guru untuk bermain sepak bola. Namun dalam waktu singkat, klub ini tumbuh menjadi representasi seluruh komunitas industri dan pekerja keras di kota Sunderland.

Pada tahun 1884, klub mulai dikenal dengan nama Sunderland AFC, dan segera bergabung dengan Football League pada tahun 1890 — menggantikan Stoke City yang keluar dari kompetisi. Dari sini, sejarah kejayaan pun dimulai.


🏆 Era Keemasan Awal: “The Team of All Talents”

Sunderland dengan cepat menjelma menjadi kekuatan besar di sepak bola Inggris pada akhir abad ke-19. Mereka dikenal dengan julukan “The Team of All Talents” karena permainan atraktif dan deretan pemain bintang yang dimiliki.

Antara tahun 1892 hingga 1902, Sunderland berhasil menjuarai English First Division (kini Premier League) sebanyak lima kali — yaitu pada musim 1891–92, 1892–93, 1894–95, 1901–02, dan 1912–13. Dominasi ini menjadikan mereka salah satu klub paling sukses di era awal sepak bola profesional Inggris.

Sunderland juga memenangkan FA Cup pertama mereka pada tahun 1937, setelah mengalahkan Preston North End di final. Gelar ini memperkuat posisi mereka sebagai salah satu klub tradisional terbesar di Inggris sebelum Perang Dunia II.


⚙️ Simbol Kota Industri dan Kerja Keras

Kota Sunderland sendiri merupakan kota pelabuhan dan industri berat, terkenal dengan galangan kapal dan pertambangan batubara. Klub ini menjadi simbol kebanggaan kelas pekerja — tempat masyarakat bersatu untuk melupakan kerasnya kehidupan industri.

Warna merah dan putih yang menjadi identitas Sunderland melambangkan semangat, keberanian, dan solidaritas warga Wearside. Pertandingan melawan tetangga mereka, Newcastle United, dikenal dengan sebutan “Tyne–Wear Derby”, adalah salah satu rivalitas paling panas dan penuh emosi di Inggris.


📉 Masa Sulit dan Kejatuhan

Meski memiliki sejarah gemilang, Sunderland juga mengalami masa-masa kelam. Setelah kejayaan era awal, klub ini mulai kehilangan dominasinya di pertengahan abad ke-20.

Mereka sempat terdegradasi untuk pertama kalinya pada tahun 1958, namun berhasil bangkit sesekali. Puncak kebanggaan terakhir datang pada tahun 1973, ketika Sunderland — yang saat itu bermain di Divisi Keduasecara heroik memenangkan FA Cup dengan mengalahkan Leeds United 1–0 di Wembley. Gol ikonik Ian Porterfield dan penyelamatan luar biasa dari kiper Jim Montgomery masih dikenang hingga kini sebagai salah satu momen terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris.

Namun setelah itu, Sunderland harus menghadapi kenyataan pahit berupa ketidakstabilan manajemen, finansial, dan performa. Klub sering naik-turun antara Premier League dan Championship — bahkan pada 2018, mereka terperosok ke League One, kasta ketiga sepak bola Inggris.

Tragisnya, kejatuhan ini terdokumentasi dalam serial dokumenter Netflix berjudul “Sunderland ’Til I Die”, yang menggambarkan perjuangan klub dan para fans menghadapi masa-masa sulit dengan penuh emosi dan ketulusan.


🏟️ Stadium of Light: Rumah Baru, Harapan Baru

Pada tahun 1997, Sunderland pindah ke stadion baru yang megah — The Stadium of Light, menggantikan kandang lama mereka Roker Park. Stadion berkapasitas lebih dari 49.000 penonton ini dibangun di bekas area tambang batu bara, simbol dari transformasi kota Sunderland dari industri tua menuju era baru.

Nama “Stadium of Light” sendiri memiliki makna filosofis: cahaya sebagai simbol harapan dan masa depan. Stadion ini menjadi salah satu yang paling bersejarah dan atmosferik di Inggris, terutama ketika para suporter menyanyikan lagu kebanggaan mereka:

“Wise Men Say, Only Fools Rush In…”
lagu dari Elvis Presley yang telah menjadi lagu wajib setiap pertandingan kandang.


🧠 Pemain dan Legenda Klub

Selama lebih dari satu abad sejarahnya, Sunderland melahirkan banyak pemain legendaris dan tokoh penting dalam sepak bola Inggris. Beberapa di antaranya:


🔁 Kebangkitan Modern dan Perjuangan di Championship

Setelah dua kali terdegradasi berturut-turut (2017 dan 2018), Sunderland sempat terpuruk di League One selama beberapa musim. Namun semangat fans tidak pernah padam. Di bawah kepemimpinan Tony Mowbray (dan kini manajer muda seperti Michael Beale / Mike Dodds, tergantung musim), klub perlahan bangkit kembali.

Musim 2021/22, Sunderland berhasil promosi kembali ke Championship setelah memenangkan babak play-off di Wembley. Kemenangan ini dianggap sebagai titik balik dan harapan baru menuju Premier League.

Dengan skuad muda berbakat seperti Jack Clarke, Dan Neil, dan Trai Hume, Sunderland kini dikenal sebagai tim yang atraktif dan berpotensi besar di masa depan.


❤️ Loyalitas Fans: “Sunderland Till I Die”

Tidak banyak klub di dunia yang bisa membanggakan basis pendukung seperti Sunderland. Meski jatuh ke divisi ketiga, mereka masih mampu menarik lebih dari 30.000 penonton per pertandingan — angka yang luar biasa untuk level itu.

Bagi pendukung Sunderland, mendukung klub bukan sekadar hobi, tapi identitas hidup. Mereka dikenal dengan slogan yang penuh makna:

“We don’t follow the club because they win. We follow them because they are ours.”

Kisah cinta tanpa syarat ini menjadikan Sunderland salah satu klub dengan fanbase paling setia dan emosional di Inggris.


Filosofi dan Semangat Klub

Sunderland bukan hanya tentang sepak bola; ia adalah tentang perjuangan, identitas, dan kebanggaan rakyat pekerja. Klub ini mewakili semangat timur laut Inggris — keras, jujur, dan pantang menyerah.

Dalam setiap langkah mereka, baik di puncak kejayaan maupun di lembah kejatuhan, Sunderland selalu menunjukkan satu hal: bahwa kebanggaan sejati tidak ditentukan oleh liga, tetapi oleh hati.


🏁 Kesimpulan

Dari kejayaan masa lalu hingga perjuangan modern, Sunderland AFC tetap menjadi salah satu simbol paling kuat dalam sejarah sepak bola Inggris. Mereka mungkin telah jatuh, tapi tak pernah menyerah.
Dengan sejarah kaya, dukungan fanatik, dan semangat kerja keras, Sunderland membuktikan bahwa klub besar tidak diukur dari posisi di klasemen, melainkan dari jiwa dan cinta yang terus menyala di dada para pendukungnya.

Seperti yang selalu mereka nyanyikan di Stadium of Light:

“Wise men say, only fools rush in… but I can’t help falling in love with you.”

Dan itulah cinta yang sejati — cinta yang membuat Sunderland AFC abadi.

Komentar

Postingan Populer